SEKILAS INFO
: - Selasa, 13-11-2018
  • 1 bulan yang lalu / Penerimaan Siswa Baru Program SD & SMP Tahun Ajaran 2019-2020 Pendaftaran Internal: 8 – 19 Oktober 2018 Gelombang I: 22 Oktober – 2 November 2018 Gelombang II: 29 November – 7 Desember 2018
Serba Serbi Sekolah Inklusi

Sekolah inklusi adalah sekolah dimana semua anak dapat bergabung, berinteraksi dan belajar bersama baik anak dengan kebutuhan khusus (ABK) maupun anak tanpa kebutuhan khusus (ATBK).  Masyarakat kita saat ini masih banyak yang belum memahami maksud dari sekolah inklusi  dan anak seperti apa saja yang boleh masuk (bergabung). Tidak hanya itu Sekolah Inklusi juga masih belum terimplementasi secara utuh baik dikalangan sekolah Negeri maupun Swasta.

Agar lebih mudah mari kita fahami  terlebih dahulu dari istilah ABK. ABK adalah Kepanjangan dari Anak Berkebutuhan Khusus.maka kita bisa memahami bahwa ABK adalah anak yang memang membutuhkan perhatian, perlakuan bahkan fasilitas khusus sebagai penunjang pembelajarannya. Lalu seperti apa kah penggolongan ABK ?

Anak berkebutuhan khusus sangatlah beragam seperti  anak berkesulitan belajar, gangguan wicara, retardasi mental, gangguan emosi, gangguan fisik & kesehatan, gangguan pendengaran, gangguan penglihatan, tunaganda, anak berbakat, gangguan komunikasi, berkesulitan belajar, gangguan emosi & prilaku, gangguan penglihatan, Gangguan pendengaran, gangguan intelektual,Gangguan fisik,dll (Lewis,1988 Ashman dan Elkins,1994). Pada  sekolah inklusi,  semua anak yang mengalami hambatan tersebut mereka boleh bersekolah bersama anak lainnya (ATBK) di sekolah Reguler baik yang dikelola oleh pemerintah maupun oleh swasta tentunya dengan kuota yang telah ditentukan sesuai dengan kapasitas dan kemampuan tiap lembaga.

Mengapa sekolah inklusi belum terimplementasi secara utuh?, tentunya sangatlah banyak faktor yang mempengaruhinya. Sekolah yang akan menjadikan dirinya sekolah inklusi maka sekolah tersebut harus bersiap-siap untuk memberikan pelayanan yang lebih sesuai untuk anak-anak dengan katagori tertentu. Misalnya saja anak dengan diagnose Sensory Integrasi atau ADHD misalnya, maka sekolah harus mempersiapkan sarpras yang dapat digunakan untuk mengoptimalkan pembelajaran untuknya. Selain itu juga sekolah harus memiliki orang yang ahli dibidangnya baik itu psikolog dengan keahlian ABA (Applied Behavior Analysis) hingga Physiotherapist yang akan memberikan treatment atau panduan treatment kepada Guru pendamping Khusus (GPK). Tentu saja hal tersebut tidaklah mudah dan tidak pula murah.

Tidak hanya tantangan sarpras dan teknis maka sekolah inklusi memiliki tantangan yang besar pula dalam mempersiapkan semua elemen sekolah agar memahami anak dengan kebutuhan khusus tersebut terutama dalam hal adaptasi dan sosialisasi satu dengan yang lainnya.

Serba serbi sekolah inklusi tentunya masih sangat banyak lagi jika diurai satu persatu. Namun kebulatan tekad dari Sekolah Islam Ibnu Hajar untuk menjadi sekolah inklusi sudah lah bulat dan siap untuk belajar dan memberikan yang terbaik.

TINGGALKAN KOMENTAR

6 + 17 =

Pengumuman

Kategori

Kategori