Kurikulum atau Guru?
Ternyata banyak ya, kurikulum yang dipakai di sekolah-sekolah Indonesia.
Ada Cambridge, IB, Montessori, dan mungkin masih banyak lagi. Di sekolah kami sendiri, kami menggunakan kurikulum nasional yang dipadukan dengan kurikulum khas sekolah alam.
Beda kurikulum, bisa beda juga biaya masuk sekolahnya. Hehe. Seberpengaruh itu ya, kurikulum?
Pastinya, setiap kurikulum punya kelebihan, kekurangan, dan fokusnya masing-masing. Dan tentu saja, kurikulum itu penting. Ia menjadi arah bagi sekolah dalam mendidik anak.
Tapi setelah dipikir-pikir lagi, apakah kurikulum saja cukup?
Ada sebuah pepatah yang menurut saya menarik:
Materi itu penting, tapi lebih penting cara mengajarkannya.
Cara mengajar itu penting, tapi lebih penting gurunya.
Dan yang paling penting adalah ruh gurunya.
Lalu, sebenarnya apa sih “ruh guru” itu?
Buat saya, ruh guru bukan sekadar semangat mengajar atau rasa suka terhadap anak.
Lebih dalam dari itu, ada iman dan kesadaran bahwa mendidik adalah sebuah amanah dari Allah.
Bahwa setiap anak yang hadir di hadapan kita bukan sekadar murid, tetapi manusia yang sedang Allah titipkan untuk kita dampingi.
Kesadaran itu yang membuat guru berusaha mengajar sebaik-baiknya, tetap sabar ketika menghadapi kesulitan, mau terus belajar, dan tidak mudah menyerah melihat proses tumbuh seorang anak.
Karena pada akhirnya, sebagus apa pun kurikulumnya, anak tetap belajar melalui interaksi dengan gurunya.
Maka mungkin yang perlu kita pikirkan bukan hanya, “Kurikulum apa yang kita gunakan?” tetapi juga:
“Bagaimana agar ruh guru tetap hidup?”
Tentu, ini pertama-tama adalah pekerjaan hati setiap guru. Tapi guru juga butuh ekosistem yang mendukung: pemimpin yang hadir, rekan kerja yang saling menguatkan, dan orang tua yang menjadi mitra positif.
Sebab menjaga ruh guru ternyata bukan hanya urusan guru.
Untuk para guru, mungkin kita bisa bertanya:
“Masihkah saya mengingat bahwa mengajar adalah amanah?”
Untuk para pemimpin:
“Sudahkah saya menciptakan lingkungan yang membantu guru menjaga amanah itu?”
Dan untuk para orang tua:
“Sudahkah saya menjadi mitra yang ikut menguatkan guru dalam mendidik anak saya?”
Karena mungkin, pendidikan yang baik bukan hanya lahir dari kurikulum yang baik.
Ia lahir ketika ilmu bertemu dengan guru yang punya iman, ruh, dan kesadaran akan amanahnya.
Dan tugas kita bersama adalah menjaga agar ruh itu tetap hidup.
inti dari bahsan diatas apa




